Jumat, 17 Juni 2022

MODUL 3.3.A.10 AKSI NYATA PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID LITERASI DIGITAL (LITDIG)

 

MODUL 3.3.A.10 AKSI NYATA PENGELOLAAN PROGRAM YANG

BERDAMPAK PADA MURID LITERASI DIGITAL (LITDIG)


Oleh : Suci Subarni

CGP Angkatan 4


A. PERISTIWA (FACT)

Minat baca murid SMAN 2 Wonogiri menjadikan kegelisahan tersendiri bagi saya, dan secara umum bagi guru-guru lain sehingga mendorong hal ini terjadi. Budaya membaca dan ketertarikan murid terhadap buku bacaan semakin menurun dan tergeser oleh kehadiran Smartphone android. Murid lebih tertarik menonton video maupun membaca tulisan-tulisan yang ada di sosial media. Hal ini menunjukkan minat baca ada namun day abaca rendah. Murid menjadi malas dalam membaca buku dan berpikir kritis serta berkreativitas. Padahal membaca adalah jendela dunia dan pikiran untuk memacu kreativitas.

Program literasi digital merupakan suatu hal yang penting yang harus dimiliki murid. Proses Pendidikan sangat dipengaruhi oleh kesadaran dan kemampuan literasi. Kemampuan literasi kemampuan literasi meliputi seluruh keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis sehingga dalam program literasi membaca ini sesuai dengan salah satu karakteristik dari 7 lingkungan yang menumbuh kembangkan kepemimpinan murid yaitu lingkungan yang melatih keterampilan yang di butuhkan murid dalam proses pencapaian tujuan akademik dan non akademik.

Yang dilakukan pada aksi nyata berikut alasan mengapa melaksanakan aksi nyata?

Aksi nyata pengelolaan program yang berdampak pada murid di maksudkan untuk mewujudkan  kepemimpinan murid, program ini di lakukan dengan harapan murid-murid bisa terbuka dan selektif terhadap perkembangan zaman, memamfaatkan teknologi secara baik dan efektif dalam hal positif, dalam hal ini adalah aplikasi spechnoote. Aplikasi ini diunduh melalui Android murid yang nantinya akan digunakan murid untuk melaksanakan literasi digital, cara kerjanya siswa hanya perlu bercerita (cerita pendek dengan tema bebas sesuai minat) secara lisan dengan menggunakan aplikasi tersebut, maka secara otomatis akan terekam dalam bentuk tulisan, dimana tulisan bentuk cerpen itu nanti akan dibukukan sebagai karya murid. Selain hal tersebut harapan lainnya adalah menumbuhkan sikap berani dalam dirinya untuk berkreatifitas/tampil dan mengekspresikan dirinya melalui karya yang dibuatnya dalam bentuk cerpen.

Aksi nyata ini di laksanakan untuk mewujudkan langkah pengelolaan program yang berdampak pada murid dengan berbasis pemetaan aset sekolah menggunakan model BAGJA dan MELR yang dilakukan untuk memastikan sebuah program yang berdampak pada murid. Sehingga bisa menjadi langkah konkrit keterlibatan sebagai pemimpin dalam pengembangan sekolah.

Alasan utama lainnya program ini adalah agar terwujudnya wellbeing murid atau student wellbeing  dan perkembangan murid secara holistik, murid yang Bahagia dan juga memiliki nilai – nilai pribadi yang unggul, berbudaya serta memiliki karakter profil pelajar pancasila.

Tujuan Utama melaksanakan aksi nyata ini adalah sebagai berikut :

1.    Membangun kesadaran murid pentingnya literasi dalam pembelajaran akademik     maupun non akademik.

2.      Melatih siswa belajar sesuai zamannya, mengikuti perkembangan zaman

3.      Menumbuhkan kemampuan berprikir kritis murid.

4.      Menumbuhkan kepercayaan diri untuk berkreatifitas.

5.      Menumbuhkan jiwa kepemimpinan murid.

6.      Menjadikan kegiatan literasi digital sebagai budaya positif di sekolah

7.      Melatih kemandirian siswa dalam memecahkan masalah.

8.      Menumbuhkan budi pekerti dan kepribadian yang baik kepada siswa

HASIL AKSI NYATA





                                        Kegiatan sosialisasi dan pelaksanaan LITDIG 

Dengan terlaksananya program ini, diharapkan dapat mewadahi kretivitas dan bernalar kritis  bagi murid untuk berkaya sesuai dengan bakat minat mereka. Selain itu harapannya juga dapat mengedukasi murid akan pentingnya budaya literasi. Murid perlu dituntun agar mereka paham pentingnya literasi, dan juga berpikir kedepan bahwa perkembangan teknologi tidak serta merta digunakan untukhal-hal negatif. Dengan terlaksananya kegiatan  yang rutin dan berkelajutan dari program ini maka dampak pada murid dalam hal meningkatkan minat dan bakat serta jiwa kepemimpinan dan juga kepedulian akan literasi digital akan membuahkan hasil.

Hasil aksi nyata ini menunjukan bahwa ada perkembangan dari waktu ke waktu mulai dari hanya bercerita 15 menit melalui litdig sebelum memulai proses belajar mengajar yang di awasi oleh guru yang mengajar jam pertama atau wali kelas sehingga menjadi budaya bagi murid – murid ketika jam literasi sudah di mulai maka dengan sendirinya melakukan aktivitas tersebut. Satu hal yang menjadi saya bangga sebagai guru mata pelajar murid mampu meningkatkan kemampuan dalam mencipta cerpen melalui litdig, menambah wawasan, meningkatkan kreativitas. Selain itu aksi nyata ini juga menjadikan murid memiliki jiwa kepemimpinan karena mereka berani membuat keputusan sendiri untuk menentukan minat dan karya sesuai dengan keinginannya.

Kegiatan literasi digital yang di lakukan menunjukan bahwa kegiatan literasi digital dapat memaksimalkan asset sekolah secara maksimal baik guru, murid, maupun  sarana dan prasarana. Murid juga secara mendapatkan fasilitas dan kemerdekaan dalam mengembangkan bakatnya dengan kreativitas mereka masing- masing. Dengan demikian apapun yang menjadi minat dan bakat peserta didik dapat di salurkan dengan baik dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di lingkungan sekolah demi peningkatan potensi peserta didik sesuai perkembangan zamannya.

Aksi nyata ini terlaksana karena dukungan dari berbagai pihak, kami merintisnya dari komunitas praktisi karena rasa kegelisahan yang sama terkait pelaksanaan literasi di sekolah kami. Kemudian kami mulai bergerak dan menggerakkan baik secara langsung maupun melalui grup WA. Berikut beberapa dokumentasi dari aksi nyata yang kami lakukan, dari mulai sosialisasi ap aitu literasi digital, aplikasi spechnote, tujuan, dan hasil karya murid.




Contoh karya anak cerpen melalui LITDIG




Kegiatan diskusi komunitas praktisi terkait pelaksanaan program LITDIG

B. PERASAAN (FEELING)

Perasaan saat merencanakan aksi nyata ini program yang berdampak pada murid ini adalah  merasa tertantang karena program ini harus menekankan pada aspek dampak langsung pada diri siswa misalnya kepedulian aspek lain, literasi,digital tanggung jawab, kreatifitas, dan  kedispilinan, serta aspek lainnya yaitu kemampuan kepemimpinan bisa menjadi bekal siswa untuk kehidupan yang lebih baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Perasaan saat program ini terlaksana perasaan bahagia dan juga optimis dengan pencapaian program dengan pencapaian program yang sudah berjalan, terlaksananya program ini tidak terlepas dari kolaborasi semua pemangku kepentingan terutama siswa yang sangat antusias terlibat dalam program literasi digital,guru penggerak dan bapak ibu guru lainnya yang mengkoordinir kegiatan. Saya pun bertambah antusias terlibat dalam program literasi digital baik dari murid dan seluruh pemangku kepentingan di sekolah. Dengan respon yang baik dari warga sekolah terutama murid membuat saya ingin terus terlibat dalam pengelolaan program ini agar lebih baik lagi ke depannya dan dengan harapan dapat terus berkelanjutan.

C.PEMBELAJARAN ( FINDING)

Pembelajaran yang didapatkan dari aksi nyata adalah terwujudnya kepemimpinan murid dalam literasi digital untuk peningkatan minat bakat serta jiwa kepemimpinan, terwujudnya  karakter murid yang memiliki kreativitas, daya pikir yang kritis, menjadi siswa yang berani tampil dan mengekspresikan bakat maupun potensinya pada akhirnya besar harapan saya bahwa program ini akan bisa mewujudkan profil  pelajar pancasila.

Dari aksi nyata ini saya mendapatkan banyak pelajaran penting, yaitu bagiamana saya menyusun dan mengelola sebuah program yang berdampak pada murid dengan pemetaan aset model BAGJA. Selain itu saya menyadari pentingnya kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk suksesnya program ini. Saya juga belajar bahwa peran guru tidak terbatas pada pembelajaran di dalam kelas sajanamun harus peduli dan ikut terlibat dalam mengelola program yang berdampak pada murid .

D. PENERPAN KEDEPAN (FUTURE)

Recana perbaikan ke depan yaitu  lebih mengaktifkan kembali kegiatan intrakurikuler di lingkungan sekolah untuk memberikan bimbingan dan menjadi wadah pengembangan minat dan bakat anak selain itu kedepannya perlu pemberian apresiasi berupa reward kepada siswa yang memiliki prestasi akademik sebagai bentuk dukungan untuk menambah semangat anak menampilkan kreatifitas dalam melakukan literasi digital. Selain itu perlu peningkatan kolaborasi guru dan murid dalam hal kegiatan literasi digital butuh pendampingan dan bimbingan dari guru piket dan wali kelas pada saat melakukan kegiatan literasi agar program dapat berjalan sesuai apa yang kita inginkan. Juga melibatkan orang tua untuk terus mendukung program sekolah dan memberikan motivasi pada murid.

Minggu, 08 Mei 2022

Koneksi Antar Materi MODUL 3.1.a.9 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Koneksi Antar Materi MODUL 3.1.a.9 Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran

“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik”

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).

Bob Talbert

Mengajarkan anak berhitung adalah hal yang baik, namun mampu menuntun anak untuk mereka dapat belajar sesuatu yang berharga/ yang utama adalah yang terbaik.

   1. Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki                    pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin        pembelajaran diambil?

Asas Pendidikan Ki Hadjar Dewantara Ki Hadjar Dewantara membedakan Pendidikan dan Pengajaran dalam memahami arti dan tujuan Pendidikan. Pengajaran adalah bagian dari Pendidikan. Pengajaran merupakan proses pendidikan dalam memberi ilmu untuk kecakapan hidup anak secara lahir dan batin. Sedangkan Pendidikan memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Selanjutnya adalah Pratap Triloka yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara yang terkenal dengan semboyan ing ngarso sung tulodo dengan memberikan contoh positif, ing madya mangun karso yaitu membimbing dan memberikan semangat, serta tut wuri handayani dimana guru memberi dorongan dan memotivasi. Bagi seorang pemimpin pembelajaran (guru) padangan KHD tersebut tentulah sangat berpengaruh dalam mengambil keputusan -keputusan yang berpusat pada murid. Dimana hal-hal tersebut sebagai dsar dan landasan agar setiap keputusan yang diambil bijaksana, adil, dan memberikan kebermanfaatan bagi sesama.

  1. Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

Karsa merupakan suatu unsur yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia.  Karsa ini pun berhubungan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianut oleh seseorang, disadari atau pun tidak. Nilai-nilai atau prinsip-prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika. Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini:

1. Individu lawan masyarakat (individual vs community)

2. Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy)

3. Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty)

4. Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term)

Kita  semua tahu bahwa etika tentunya bersifat relatif dan bergantung pada kondisi dan situasi, dan tidak ada aturan baku yang berlaku. Tentunya ada prinsip-prinsip yang lain, namun ketiga prinsip di sini adalah yang paling sering dikenali dan digunakan. Dalam seminar-seminar, ketiga prinsip ini yang seringkali membantu  dalam menghadapi pilihan-pilihan yang penuh tantangan, yang harus dihadapi pada dunia saat ini. (Kidder, 2009, hal 144). Ketiga prinsip tersebut adalah:

1.       Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking)

2.       Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking)

3.       Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking)

Perlu diingat bahwa setiap keputusan yang kita ambil akan ada konsekuensi yang

mengikutinya, dan oleh sebab itu setiap keputusan perlu berdasarkan pada rasa

tanggung jawab, nilai-nilai kebajikan universal dan berpihak pada murid.

  1. Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan 'coaching' (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi 'coaching' yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya?

Coaching sendiri memiliki pengertian suatu proses dimana coach menggali potensi dari coachee untuk dapat dimunculkan agar dapat mengatasi masalahnya sendiri. Pada sesi ini Fasilitator mengarahkan CGP untuk menggali potensinya dalam mengambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. CGP dalam melakukan pengambilan dan pengujian keputusan didampingi fasilitator untuk dapat menerapkan 4 paradigma dilema, 3 prinsip penyelesaian dilema, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dengan mengedepankan komunikasi asertif. Fasilitator beperan sebagai mitra yang memberdayakan CGP melalui pertanyaan-pertanyaan terbuka, reflektif, dan mendalam sehingga CGP dapat menggunakan potensi, pengetahuan, dan pengalamannya dengan optimal dalam melakukan pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Agar setiap keputusan yang diambil pilihan terbaik dari pilihan yang ada, tidak melanggar peraturan/norma, berdampak pada orang banyak, berdasarkan nilai kemanusiaan, dan memiliki pengaruh jangka panjang, serta dapat dipertanggungjawabkan. Setiap keputuan yang diambil telah melalui pengujian dengan seksama, baik-buruk, dan dampak yang ditimbulkannya. CGP harus mampu menganalisa pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan  pengujian keputusan dalam studi kasus yang mereka dapatkan dan memberi tanggapan pada studi kasus CGP lainnya dan bersikap reflektif, kritis, dan kreatif dalam proses tersebut.

4. Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan keputusan?

Untuk menghadapi berbagai situasi dan tantangan yang kompleks ini, baik pendidik maupun murid membutuhkan berbagai bekal pengetahuan, sikap dan keterampilan agar dapat mengelola kehidupan personal maupun sosialnya.  Pembelajaran di sekolah harus dapat mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, baik aspek kognitif, fisik,  sosial dan emosional. Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)  dapat membantu pemahaman dan penerapan CGP dalam mengelola aspek sosial dan emosional diri sendiri sekaligus dapat menerapkannya pembelajaran sosial dan emosional pada murid secara lebih sistematik dan komprehensif. Sehingga setiap keputusan yang diambil dapat dilakukan secara mindfull, sadar dengan berbagai pilihan, konsekuensi, dan meminimalisis kesalahan dalam pengambilan keputusan tersebut, serta tujuan utamnya tercapai yaitu pengambilan keputusan berpihak pada murid.

5.  Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

Sebagai seorang pendidik harus mampu melihat permasalahan yang dihadapi apakah permasalahan tersebut merupakan dilema etika atau bujukan moral. Dengan menerapkan nilai- nilai dari seorang pendidik tersebut, (nilai inovatif, kolaboratif, mandiri dan reflektif). Seorang pendidik harus dapat menuntun muridnya menggali potensi yang dimiliki dalam menganalisa masalah dan mengambil keputusan yang dihadapi. Atas dasar nilai- nilai dari seorang pendidik tersebut maka akan cenderung pada prinsip melakukan demi kebaikan orang banyak, menjunjung tinggi prinsip- prinsip/ nilai- nilai dalam diri dan melakukan apa yang kita harapkan orang lain akan lakukan kepada diri kita. Maka seorang pendidik akan dapat mengambil sebuah keputusan yang bertanggung jawab melalui berbagai pertimbangan dan langkah pengambilan dan pengujian sebuah keputusan terkait permasalahan yang terjadi.

6. Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

Pengambilan keputusan harus dibuat dengan kesadaran penuh dan melalui serangkaian tahapan dan pengujian yang runtut dan tepat. harus melalui analisa pengambilan keputusan berdasarkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan dan  pengujian keputusan. Sehingga pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

7.    Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

Pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika tentu ada beberapa kesulitan yang dihadapi adalah sering kali suatu keputusan diambil tidak melibatkan seluruh pihak yang terlibat sehingga keputusan dibuat secara sepihak, serta adanya kesetiakawanan yang tinggi dan keberpihakan sehingga keputusan diambil secara terburu-buru atas dasar rasa kasihan.

8.  Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

Keputusan yang kita ambil sebagai pemimpin pembelajaran harus berpihak pada murid, kita tidak boleh merampas potensi murid dan kebahagiaan murid. Karena sejatinya merdeka belajar adalah tujuan akhir dari pembelajaran yang kita lakukan. Merdeka belajar berarti murid bebas mencapai kebahagiaannya sesuai kodrat alam dan zamannya baik secara individu maupun dalam bermasyarakat.

9.  Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

Guru adalah ujung tombak Pendidikan. Sebagai pamong guru haruslah menuntun dan mengarahkan murid dengan baik dan penuh tanggung jawab. Dalam menuntun murid menuju kebahagiaan sesuai kodratnya, guru haruslah menjalankan peran dan menerapkan nilai-nilai luhur yang ada pada dirinya. Sehingga setiap keputusan yang diambil guru benar-benar berpihak pada murid dan akan berpengaruh baik pada masa depan murid.

10. Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

1)  Pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran.

2)    Efektifitas penerapan coaching dalam pengambilan keputusan.

3) Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) agars dapat sepenuhnya berpihak pada murid.

4)  Dalam pengambilan kasus yang sering terjadi, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkan pengambilan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar.


Laporan Aksi Nyata Modul 1.4 Budaya Positif Pendidikan Guru Penggerak

 














Budaya Positif


 

Sabtu, 30 April 2022

Inkuiri Apresiatif (BAGJA)



Visi Misi dan Inkuiri Apresiatif (BAGJA)





 

TUGAS PENDIDIKAN GURU PENGGERAK : KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.2 NILAI-NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK


KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 1.2 NILAI-NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK



 

TUGAS AKSI NYATA MODUL 1.2 PENDIDIKAN GURU PENGGERAK

 

AKSI NYATA MODUL 1.2 NILAI-NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

A.      LATAR BELAKANG

Bapak Pendidikan Nasional kita menekankan  bahwa  pendidikan  harus  berpusat  pada murid, pendidikan yang dilakukan harus berhamba pada murid yang diberikan kesempatan  seluas-luasnya  untuk  tumbuh  dan  berkembang  sesuai  dengan bakat dan minatnya untuk menciptakan iklim merdeka belajar. Mewujudkan pembelajaran siswa yang Merdeka Belajar dan mewujudkan peserta didik yang memiliki Profil Pelajar Pancasila sesuai dengan filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantara dapat diwujudkan jika nilai dan peran guru diterapkan dengan baik oleh masing-masing guru, bahkan profil pelajar Pancasila yang diharapkan tercermin pada peserta didik pun sejatinya harus diterapkan terlebih dahulu pada masing-masing guru dan barulah guru dapat membimbing peserta didik memiliki karakter profil pelajar pancasila melalui aksi nyata. Nilai dan peran guru yang ada perlu dikembangkan melalui pembiasaan aktivitas sehari-hari agar dapat mewujudkan iklim merdeka belajar.

B.      TINDAKAN AKSI NYATA

Seorang guru penggerak haruslah melakukan perubahan baik dalam mewujudkan pembelajaran yang Merdeka Belajar dan berkarakter Profil Pelajar Pancasila. Mejalankan nilai dan peran guru adalah kewajiban. Adapun peran guru penggerak dalam menjalankan konteks merdeka belajar adalah mendorong peningkatan prestasi akademik murid, mengajar dengan kreatif, mengembangkan diri secara aktif, mendorong tumbuh kembang murid secara holistik dan menjadi pelatih (coach) bagi guru lain untuk pembelajaran yang berpusat pada murid yang didukung dengan nilai-nilai dari seorang guru penggerak meliputi mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif dan berpihak pada murid. Adapun disini saya sebagai guru di SMA N 2 Wonogiri saya mengajar Mata Pelajaran Bahasa Indonesia, dalam mengimplementasikan nilai dan peran guru penggerak:

1.       Saya berusaha menjadi pemimpin pembelajaran yang berpihak pada murid. Selama kegiatan pembelajaran saya berusaha menjadi penuntun pembelajaran yang baik, menuntun siswa sesuai dengan kodrat siswa tanpa memaksakan kehendak. Sehingga terwujud pembelajaran yang menyenangkan. Hal itu terwujud dalam pembelajaran diskusi yang pernah saya terapkan selama pembelajaran daring maupun luring.

2.       Melakukan kolaborasi dengan rekan guru antar maple untuk berbagi saling belajar pemanfaatan IT yang nantinya dapat diterapkan dalam pembelajaran seperti menggunakan video pembelajaran, membuat media pembelaran dalam bentuk poster, infografis, dan penilaian dengan QUIZIZZ agar lebih menarik.

3.       Mandiri dan bekerja keras melakukan pengembangan diri dengan mengikuti pelatihan- pelatihan online seperti Pembatik, dan pelatihan online guru belajar di SIMPKB agar menambah ilmu dan wawasan yang bisa dimanfaatkan dalam melaksanakan pembelajaran yang kreatif dan inovatif.

C.       HASIL YANG DIPEROLEH

Adapun hasil yang diperoleh melalui pelaksanaan aksi nyata ini yaitu sebagai berikut.

1.     Guru memahami pentingnya kemandirian dalam mengembangkan diri untuk  meningkatkan kompetensi yang dimiliki sehingga bisa menghadirkan pembelajaran yang berpusat pada siswa dan menyenangkan bagi siswa. Melalui kegiatan aksi nyata ini guru-guru di sekolah tempat penulis bertugas mendapatkan ilmu baru terkait pembuatan video pembelajaran dalam pembelajaran dan dapat manfaatkan dalam pembelajaran di kelasnya masing-masing. Kegiatan pembelajaran pun berlangsung dalam situasi yang menyenangkan untuk siswa, selain itu siswa menjadi lebih mudah dalam memahami materi pelajaran dan tidak merasa jenuh.

2.     Guru dapat berkolaborasi dengan rekan sejawatnya di dalam mengembangkan diri dan meningkatkan kompetensinya. Bentuk kolaborasi dapat dilakukan melalui kegiatan saling berbagi dengan rekan-rekannya terkait praktik baik pembelajaran yang telah dilakukan di kelas nya masing-masing untuk dapat diberi masukan dan di adopsi oleh guru lain. Seperti yang sudah dilakukan pada aksi nyata ini, penulis berbagi dengan guru lain di sekolah terkait pemanfaatan poster, infografif dan video dalam pembelajaran.

3.     Guru dapat berinovasi dalam melaksanakan pembelajaran. Guru dapat memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mendukung proses pembelajaran yang mereka laksanakan seperti pemanfaatan aplikasi untuk video, poster, infografis dan kuis. Dengan demikian pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru akan lebih variatif dan tidak membosankan bagi siswa.

4.     Siswa menikmati proses pembelajaran yang mereka ikuti, tidak bosan, menyenangkan, dan tentunya bermakna bagi mereka.

D.    DUKUNGAN YANG DIBUTUHKAN

Dukungan Kepala Sekolah :

Selalu  memberikan  dorongan  dan  arahan  dalam  rapat  virtual  maupun  rapat luring  disekolah,  atas  kendala  yang  terjadi. Bersikap terbuka dan selalu membangun guru untuk berkembang. Memberikan  ruang  kepada guru,  wali kelas,  dan  BK  untuk  melakukan  home  visit  kepada  peserta  didik  yang bermasalah.

Dukungan teman sejawat :

Bersedia aktif dan selalu bisa  diajak  sharing  dan  bertukar  pikiran,  memberikan saran  dan kritikan yang membangun

Dukungan dari diri sendiri :

Berusaha  menjalankan  peran  sebagai  guru  penggerak  dengan  ikhlas  dan sepenuh  hati  untuk  melahirkan  pelajar  yang  sesuai  dengan  Profil  Pelajar Pancasila

E.    REFLEKSI AKSI NYATA

Pelaksanaan aksi nyata ini dapat meningkatkan kesadaran guru dalam rangka mengembangkan diri untuk meningkatkan kompetensi. Perasaan yang dirasakan  semangat dan sangat antusias dalam pelaksanaan. Guru dengan tekun bersemangat berlatih untuk dapat membuat video, poster, infografis, serta bagaimana menggunakan QUIZIZZ yang nantinya dapat mereka terapkan dalam pelaksanaan pembelajaran di kelasnya. 

Adapun kendala yang dialami selama pelaksanaan aksi nyata yaitu masih adanya beberapa orang guru yang belum bisa mengikuti kegiatan sharing dan berbagi karena adanya kesibukan dan kegiatan yang lain. Selain itu belum semua guru bisa memahami dengan baik bagaimana cara membuat video, poster, infografis, serta bagaimana menggunakan QUIZIZZ pembelajaran diakibatkan karena terbatas pada penguasaan TIK utamanya guru-guru yang sudah berumur.

 

 

F.     RENCANA PEBAIKAN DIMASA YANG AKAN DATANG

Sebagai manusia yang tidak sempurna, pastilah sayamenyadari ada beberapa kekurangan dalam kegiatan aksi nyata di modul 1.2 ini, sebisa mungkin saya akan terus merefleksi diri untuk terus belajar dan menerima perubahan positif. Selalu menerima saran masukan yang membangun dari pihak-pihak yang terlibat.

Setiap ada ilmu-ilmu baru yang saya peroleh terutama yang berhubungan dengan pembelajaran akan terus saya sharingkan kepada rekan-rekan guru yang lain untuk perbaikan pembelajaran dan juga kualitas pendidikan di sekolahSaya yakin akan bisa melahirkan generasi penerus bangsa yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila.

Berusaha menerapkan nilai dan peran guru secara keseluruhan dengan baik dalam kehidupan sehari-hari agar dapat mewujudkan merdeka belajar secara maksimal.

 

G.    DOKUMENTASI

 

 

 

 

                                                                                                                                       

 

Kolaborasi dengan rekan guru

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Mandiri mengikut pelatihan online (Pembatik)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Pembelajaran yang inovatif dan pemanfaatan IT pada pembelajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Hasil Video Pembelajaran yang dibuat CGP untuk mengajar yang di unggah pada youtube

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Hasil Karya Anak

 

 

 

 

MODUL 3.3.A.10 AKSI NYATA PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID LITERASI DIGITAL (LITDIG)

  MODUL 3.3.A.10 AKSI NYATA PENGELOLAAN PROGRAM YANG BERDAMPAK PADA MURID LITERASI DIGITAL (LITDIG) Oleh : Suci Subarni CGP Angkatan...